“‘Amul-Huzni” Persis

November 3, 2009

Selamat Jalan Ustadz

Monday, 2 November 2009

Bagi jama’ah Persis, tahun 2009 ini bisa dikatakan ‘amul-huzni (tahun kesedihan). Jika di masa Rasul saw, ‘amul huzni itu ditandai dengan wafatnya Khadijah ra, istri Nabi saw, dan Abu Thalib, paman Nabi saw, maka bagi jama’ah Persis, ‘amul huzni ini ditandai dengan wafatnya (1) Ust. Drs. Endang Sukmana (Kabidgar Perwakafan PP. Persis) pada tanggal 24 Februari 2009, (2) Ust. Drs. H. Entang Mukhtar, ZA (Ketua PP. Persis Bidang Jam’iyyah) pada tanggal 21 April 2009, dan terakhir (3) Ust. Drs. Shiddiq Amien, MBA (Ketua Umum PP. Persis) pemimpin tertinggi di lingkungan Persatuan Islam.

Ya, ‘amul-huzni, karena mereka semua adalah tokoh-tokoh yang berkonstribusi besar dalam dakwah Islam. Kehilangan mereka sedikitnya memberikan efek yang besar dalam hilangnya peran-peran strategis dakwah yang biasa mereka perankan. Walaupun itu semua bukan pertanda bahwa dakwah Islam, khususnya Persis, telah kiamat. Karena selepas Khadijah ra dan Abu Thalib, muncullah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan sederetan shahabat lainnya yang terbukti lebih tangguh mengibarkan panji dakwah Islam. Demikian juga, selepas kepergian Ust. Shiddiq Amien, Ust. Entang Mukhtar, dan Ust. E. Sukmana, bukan berarti penegak panji-panji dakwah Islam harus hilang ditelan masa. Generasi berikutnya dalam hal ini tentu wajib berani memikul amanah yang besar ini. Semoga.

Source: Persis Website

The Persis website has said 2009 has been a rough year for the organisation, with three leading figures – Ustadz Endang Sukmana (Chairman of Persis’ Foundation Land (wakaf) Division), Ustadz Entang Mukhtar (Chairman of Jami’iyah Division) and Ustadz Shiddiq – passing away this year.

Read the rest of this entry »

KISPA Sampaikan Duka Cita atas Wafatnya Ketua Umum PERSIS

Minggu, 01/11/2009 10:04 WIB

Hari ini, Ahad, 1/11/09, ketua KISPA (komite Indonesia untuk Solidaritas Palestia ) yang sedang berada di Balikpapan, Kalimantan Timur dalam rangka dakwah merasa kaget dan sedih saat mendapatkan informasi, bahwa ust. Shiddiq Amin, Ketua Umum Persatuan Islam (Persis) meninggal dunia, Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.

Saya dan teman-teman di KISPA sudah ada rencana akan membesuk ustadz yang sedang sakit ke Bandung, akan tetapi karena ada acara aksi pembelaan terhadap masjid Al Aqsha, mendatangi DPR-RI untuk menyampaikan sikap, dan tabligh di Al Azhar maka keinginan tidak tercapai, kata Ferry Nur di Balikpapan.

Lebih lanjut Ferry menyampaikan kenangannya bersama ustadz Shiddiq Amin, saya bersama beliau ikut hadir dalam acara Kongres Al Quds Internasional yang degelar di Istanbul Turki, 15-17 November 2007, kongres tersebut membahas tentang upaya membebaskan masjid Al Aqsha dari tangan penjajah Zionis Israel, hadir juga saat itu Syekh Raid Shalah, pemimpin harakah Islamiyah di Palestina.

Bahkan ketika saya masuk Gaza, beliau mendoakan kami dan turut mendoakan, tutur ketua KISPA.

Sebagai ucapan ta’ziyah, pagi hari ini jam 08.05am, KISPA menulis melalui email ke ke website Pimpinan Pusat Persatuan Islam: www.persis.or.id. sebagai berikut:

inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,
Kami pengurus KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina) turut berduka cita beriring dengan doa: semoga Allah swt mengampuni segala dosa ust. Siddiq Amin, menerima segala amal kebaikannya, dilapangkan kuburnya, dan dihimpun bersama kafilah para syuhada di akhirat kelak. Amin. (ferry nur, ketua KISPA)

NB: kenangan yang tidak terlupakan ketika saya bersama ust Sidiq Amin menghadiri Kongres Al-Quds Internasional yang digelar di Istambul, Turki, 15-17 November 2007, semoga semuanya itu menjadi saksi terhadap komitmen beliau terhadap pembelaan perjuangan bangsa Palestina dan masjid Al Aqsha.

Source: Eramuslim

The Indonesian Committee for Solidarity with Palestine (KISPA) sent its condolences sent condolences to the late Persis chairman Shiddiq Amien. KISPA and Ustadz Shiddiq shared a common passion for the Palestinian struggle, as one of the KISPA members, Ferry Nur, recalled when he and Ustadz Shiddiq participated in the 2007 Al Quds International Conference in Turkey.

Persis has often taken a particular interest in the Palestinian issue and international Islam in general, as is also evidenced by M Natsir being a leading figure in the Muslim World Congress and also establishing the Indonesian Islamic Propagation Council (DDII) which often focuses its activities on the Palestinian struggle. It will be interesting to see if the new Persis chairman shares the same passion for the Palestinian struggle, and also what other programs he envisions for Persis. Will it continue its focus on education in Indonesia? Will it take a more political stance? Will it be more international or local in its outlook?

Persis Dewan Hisbah Secretary Wawan Shofwan announced that the Chairman of Persis’ Tarbiyah (Education) Division, KH Maman Abdurrahman, has been appointed as interim chairman of Persis.

Abdurrahman, who is a professor at the Islamic University of Bandung, said that he had been appointed chairman up until the Persis national conference which is due to be held in September 2010. He said that the priorities for the organisation up until the national conference would include evaluating programs currently under way as well as working to see that Persis is more active in the community.

He added that the national conference would be held in Tasikmalaya and Garut.

Source: Republika

KH Maman Abdurrahman

KH Maman Abdurrahman, Interim Persis Chairman

Professor KH Maman Abdurrahman MA is recognised as a senior politician, a Muslim intellectual and besides being active in Islamic propagation and education, he also is a professor in Islamic law (sharia) at the Islamic University of Bandung (Unisba). He also serves as the Chairman of the Bandung Alms Collection Agency (BAZ), the Chairman of the West Java branch of the Indonesian Ulema Council (MUI), and is a member of the Executive Council of the Crescent Star Party (PBB).

Abdurrahman played a prominent role in the ‘Green Bandung 2006′ and ‘Healthy Bandung 2007′ programs as well as in the implementation of Law No. 3/2005 on Orderliness, Cleanliness and [Environmental] Beauty. He has also written a book entitled ‘Eco-terrorism: Developing an Environmental Paradigm for Islamic Jurisprudence’, describing how environmental conservation is compulsory for faithful and pious Muslims.

At a seminar on ‘The Controversy Surrounding the ‘Vote-Abstaining in the 2009 Elections is Haram’ Fatwa’ held by the Persis Youth, Abdurrahman said he supported the fatwa “with certain conditions”. He said that the fatwa was positive as it could lead to an accumulation of Islamic support in the People’s Representatives Council (DPR). He said he was concerned that the potential of Islamic voters could be “lost” if they chose to abstain from voting in the elections, and that in fact the “enemies” of Islam were consolidating their political power.

Abdurrahman was nominated as legislative candidate from the PBB in the 2009 elections in West Java Electorate II [according to the Matanews link, it appears he was not elected].

Sources: Bulan Bintang Media , Matanews

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun

Yesterday evening (31 October 2009), the Chairman of Persis, Shiddiq Amien passed away after receiving intensive treatment at Al-Islam Hospital in Bandung for a suspected blood clot in his brain.

According to a report from the Persis Pajagalan 1-2 Website, Amien had been travelling from Tasikmalaya to Bandung on his own when he began to feel ill. He pulled over to the side of the road and contacted his family. By the time someone had reached him, he was already in a very ill state, and was immediately taken to Al-Islam hospital. Doctors attempted to operate on the blood clot however were unsuccessful. Ustadz Shiddiq finally passed away at 22:15 on 31 October 2009, he was 54 years old.

He will be buried in his birthtown of Tasikmalaya. May his good deeds be accepted by Allah, and his mistakes be forgiven amin.

Shiddiq Amien, Chairman of Persis

Shiddiq Amien, Chairman of Persis

Links to news on Shiddiq Amien’s passing:

Pesatuan Islam Official Website Statement

Persis Pajagalan 1-2 Website Statement (with account of Ustadz Shiddiq’s final hours)

Tempointeraktif report

Republika report

Detikcom report

Pikiran Rakyat report

VIVAnews report

Mengambil Ibrah Pergerakan Tokoh-Tokoh Persis Tempo Dulu[1]

Oleh: Asep Sobirin, S.Pd.I[2]

Rabu, 30 September 2009

Persatuan Islam atau lebih dikenal Persis, merupakan sebuah Ormas Islam yang bergerak pada bidang Dakwah dan Pendidikan, ia lahir pada 12 September 1923, disaat kejumudan dan keterbelakangan pemikiran menjadi “trend”’ bagi Negara-negara muslim yang sedang dijajah, seperti Indonesia.[3] Persis[4] maju kedepan sebagai pembaharu (mujadid) untuk membebaskan kejumudan tersebut dan ‘mendobrak’ pintu ijtihad yang pada waktu itu tertutup. Hal ini merupakan transformasi dari pemikir-pemikir pembaharu Mesir dan Timur Tengah pada waktu itu, diantaranya: Jamaludin Al-Afghani, Hasan Al-Bana, Rasyid Ridho dan lain-lain.

Pada saat ini banyak ditemukan literature dan buku-buku yang memuat gerakan (harakah) Persis ini, dari hasil penelitian ilmiah (tesis dan disertasi), sampai hasil analisis; baik yang membahas Persis sebagai bagian dari gerakan Islam, sampai yang membahas khusus tentang sejarah perjuangan Persis; dari luar Persis (seperti: Deliar Noer – dalam karyanya Gerakan Modernis Islam di Indonesia 1900-1924-, Yudhi Latif –dalam karyanya Intelegensia Muslim dan Kuasa-, dan lain lain), dari orang Persis sendiri (seperti: Dadan Wildan-dalam karyanya Sejarah Perjuangan Persis, Yang Da’i Yang Politikus Hayat dan Perjuangan Lima Tokoh Persis dan lain lain-, Litbang PW.Pemuda Persis Jawa Barat- Pergerakan Kaum Muda Persis, dan lain lain).

Yudhi Latif dalam karyanya Intelegensia Muslim dan Kuasa, ia sangat memuji Persis dan para penggeraknya semisal M.Natsir, Isa Anshari, Endang Anshari dan lain lain, bahkan seorang Eko Prasetyo[5]-pun, dalam karyanya Astaghfirullah Islam Jangan Di Jual ia memuji M.Natsir, bukan hanya karena kesederhanaan beliau saja, namun juga dalam hal gerakannya melawan kolonialisme, apalagi Dadan Wildan dalam mengungkapkan sejarah tokoh-tokoh Persis begitu mendetail.

Itu merupakan sejarah Persis tempo dulu, bagaimana gerakan Persis sekarang? Persis masa kini, nyaris tidak terdengar di pentas Nasional, Media Massa missal (wabilkhusus TV), hanya menyebutkan NU, Muhammadiyah, FPI, MMI, HTI, Jama’ah Islamiyah dan lain lain. Apakah mungkin seperti yang di ungkapkan oleh Pepen, Dudung, dkk -Litbang PW.Pemuda Persis Jawa Barat- dalam karyanya Gerakan Kaum Muda Persis?!. Dalam buku tersebut mereka sangat mengkritisi gerakan Persis kini, dalam hal Dakwah, Pendidikan (Pesantren), Politik dan lain-lain, sangat jauh berbeda dengan gerakan Persis tempo dulu; masihkah Persis menyandang ‘gelar’ Mujadid?!

Ada beberapa gelintir ‘orang’ Persis yang merasa ‘gerah’ dengan kondisi gerakan Persis saat ini. Ada yang mengungkapkan bahwa Persis hanya berkisar pada fiqih oriented saja, tanpa melihat fenomena kontemporer. Benarkah demikian? Silahkan pembaca mengomentarinya!

Mari kita buka lagi lembaran sejarah tokoh-tokoh Persis, untuk menjadi ibrah di masa kini. Pada mulanya Persis hanya berkisar pada klub diskusi kecil di Bandung, di motori oleh K.H. Zamzam dkk, lalu setelah munculnya A.Hasan, Persis mulai memperlihatkan “taringnya”, ia bukan hanya ‘melawan‘ pemikiran tradisional (seperti: Syirik dan TBC: Takhayul, Bid’ah dan Churafat) dengan berdebat dengan kaum Nahdiyin, beliaupun melakukan perdebatan dengan aliran sesat Ahmadiyyah, dengan faham sekuler, Soekarno.

M.Natsir dan Isa Anshari-pun melesat jauh ke arena kekuasaan, mereka berdua mewakili Persis sebagai anggota Istimewa Masyumi[6], hingga mengantarkan M.Natsir kepuncak kekuasaan, sebagai Perdana Menteri. Isa Anshari, merupakan orator ulung (singa podium) melawan ideology materialis, ia membentuk FAK (Fron Anti Komunis). Tokoh Persis lainnya adalah K.H.E. Abdurrahman, belia seorang ulama yang berwawasan luas, dalam berbagai karyanya, ia selalu mencantumkan referensi dari pemikiran-pemikiran sekuler dan ‘dibantah’ dengan argumentasi keislaman. Dan tokoh Persislainnya, K.H. Abdul Latif Muchtar, beliau merupakan fenomena ulama pada masa kini.

Keberhasilan Persis saat itu, menurut Deliar Noer, karena Persis memegang peranan dalam ‘Media Massa’ (Dakwah bilkitabah), A.Hasan dan murid-muridnya menerbitkan bulletin, selebaran, majalah, dll, sehingga walaupun Persis itu dalam segi kuantitas sangat sedikit, namun dalam segi kualitas, suaranya menggema seantero Nusantara, hingga Persis di segani baik kawan maupun lawan!. Maka Ibrah yang dapat di ambil yang pertama, adalah bagaimana Persis saat ini memegang peranan dalam hal publikasi pemikiran, walaupun kita tidak menafikan keberadaan adanya majalah Risalah dan website persis (www.persis.or.id) – walaupun mungkin hanya di’baca’ oleh orang Persis saja-, namun kedepan Persis harus mempunyai Koran, Radio dan Televisi[7].

Kedua, metode diskusi dalam kajian keislaman harus kembali di hidupkan kembali, karena selama ini, sebagian besar cabang-cabang Persis lebih banyak meggunakan metode ceramah (monolog), hingga pada akhirnya tidak ada daya kritis bagi kader-kader Persis, apalagi dalam menghadapi realita kehidupan masa kini (tidak peka terhadap zaman).

Ketiga, mungkin usulan Ihsan Latief (Sekretaris PW. Persis Jawa Barat), dalam kata pengantar buku ‘merah’nya Litbang PW. Pemuda Persis Jawa Barat, patut mendapat apresiasi, dimana ia mengusulkan dalam Muktamar Persis, agar Dewan Hisbah dan Dewan Tafkir di lebur, supaya nanti dalam menghasilkan fatwa atau pemikiran tidak hanya masalah fiqih tertentu saja, namun akan berkembang dengan masalah fiqih Siyasyah, fiqih Mu’amalah, dan lain-lain, dalam merespon tantangan zaman saat ini.

Keempat, PP. Persis ‘mengakomodasi’ dan ‘menempatkan’ kader-kader Persis sesuai dengan skill dan kemampuannya, karena tidak semuanya jadi ustadz.

Kelima, adanya ‘penataran’ bagi mubaligh-mubaligh Persis, dengan kajian-kajian kontemporer, untuk mengkanter pemikiran-pemikiran nyeleneh (seperti: Pluralisme dan Liberalisme) dan arus kapitalisme-global yang menggerus kaum lemah (dhu’afa) dan kaum tertindas (mustadh’afin). Akan tetapi, patut di acungi dua jempol, sekarang Persis dan PZU (Pusat Zakat Umat) memberikan beasiswa S1 dan S2 bagi kader Persis, mudah-mudahan Persis akan melahirkan kembali mujadid, mujtahid dan mujahid, Amin!

Akhirul kalam, dengan segala keterbatasan ilmu yang penulis miliki (jajauheun di sebat ustadz mah), penulis bukan hendak ‘mamatahan ngojai kameri’ kepada sesepuh Persis (PP) wabilkhusus kepada Dewan Hisbah, ih ampun paralun!. Sebat weh ieu mah “rengekan” anak kepada orangtua-nya.

(dari berbagai sumber. Adapun ada ungkapan : dan lain lain & buku rujukan yang kurang lengkap atau salah penyebutan, penulis lupa lagi, karena hasil bacaannya sudah lama banget, oleh karena itu di sarankan untuk membaca lagi buku-buku tersebut dan mohon koreksinya, hatur tengkiw! Jazaakumullahu khaeran katsiran )


[1] Tulisan ini bukan hendak mengenang romantisme sejarah, hingga lupa keberadaan saat ini, namun lebih dari itu kita jadikan para founding father Persis sebagai ibrah, untuk melangkah kedepan yang lebih baik.

[2] Anggota PD. Pemuda Persis Kota Cimahi (NPA: 00.0197). http:// asep-sobirin.blogspot.com

[3] Rasyid Ridho memandang bahwa kolonialisasi terhadap Negara-negara muslim, salah satunya karena kaum muslimin terjerembab dalam kejumudan dan pintu ijtihad tertutup.

[4] Di samping ormas-ormas Islam pembaharu lainnya yang sedang menggeliat, sebutlah: Muhammadiyah, Al-Irsyad dan lain lain

[5] Ia banyak menulis tentang perlawanannya terhadap imprealisme-kapitalis, dengan analisisnya (kalau boleh penulis menyebut) ‘perkawinan’ (sinkretis) antara gerakan Kiri dengan Islam.

[6] Partai Politik Islam yang berdiri pada zaman Orde Lama, dan Partai yang Istiqomah memperjuangkan Ideologi (Islam), berbeda halnya dengan sebagian Partai Politik Islam (berazaskan Islam dan berbasis umat Islam) saat ini (kalau tidak mau di sebut semuanya), mereka berjuang pragmatis, kita ambil contoh: ketika Pilpres 2009 kemarin, mengapa mereka tidak mengusung Presiden sendiri, tapi mereka lebih mendekat kepada SBY (yang dalam berbagai polling/survey pimenangen)

[7] Kita ketahui bahwa media massa merupakan alat propaganda (dakwah) untuk membentuk opini ummat, bahkan lebih dari itu, ia bias mempengaruhi kebijakan pemerintah. Lebih-lebih TV, karena penduduk di Indonesia mayoritas sufi (suka film). Dan ini jadi renungan bagi kita, bagaimana kita berdakwah sebulan sekali (majalah Risalah), sedangkan Yahudi ‘berdakwah’ tiap detik (TV).

Blog Pemuda Persis Cimahi

Found yet another piece on (particularly) youth frustration with the current state of Persis. In particular interesting to note what the writer says was the genesis of Persis in discussion groups, and how this culture should be revived within the organisation. In addition the writer also calls on the organisation’s Supervisory Council (Dewan Hisbah) to discuss and provide rulings on matters beyond pure Islamic jurisprudence (fiqh), including political (siyasyah) and social (muamalah) matters.

Read the rest of this entry »

Dari Islam Modernis Menuju Islam Moderat

Oleh: Arif Munandar Riswanto*

Muktamar ke-13 Persatuan Islam (PERSIS) telah selesai. Ajang puncak musyawarah organisasi tersebut harus menjadi tempat muhasabah kolektif dalam me-review segala bentuk pergerakan yang telah dilakukan oleh organisasi selama lima tahun ke belakang. Meskipun tidak sebesar NU dan Muhammadiyah, nama PERSIS tidak bisa dilupakan begitu saja dalam jagat “mazhab Islam Indonesia”. Setidaknya, dalam masa awal pra-kemerdekaan, PERSIS pernah mewarnai khazanah intelektual Islam Indonesia. Ahmad Hassan, Mohammad Natsir, dan Isa Anshari adalah nama-nama klasik yang telah memberikan nafas baru bagi kehidupan beragama umat Islam Indonesia. Tidak bisa dipungkiri lagi, mereka telah memberikan perubahan dan pembaruan bagi praktik-praktik keberagamaan yang penuh takhayul, bidah, khurafat, kasta kyai, fanatisme mazhab, tertutupnya pintu ijtihad, dan taklid.

Memang benar bahwa pada saat sekarang PERSIS sedang “tidur pulas”. Pada millenium ke-3 ini umat Islam Indonesia jarang disuguhi produk-produk pemikiran (baca: fiqih) PERSIS yang segar dan baru. Kalaupun disuguhi, produk-produk fiqih tersebut terkesan hanya berpusat pada fiqih ibadah an sich. Hal ini belum ditambah dengan keadaan PERSIS yang “mengisolasi” diri dari pergaulan global. Namun, “tidur pulas” tersebut ternyata membawa keuntungan yang besar sekali kepada PERSIS, yaitu, PERSIS menjadi satu-satunya ormas Islam yang belum terkena liberalisasi!

Berbeda dengan NU dan Muhammadiyah, arus liberalisasi telah menggerogoti dua ormas Islam terbesar tersebut dengan sangat kuat, terutama terhadap generasi-generasi mudanya. Atas nama pembaruan, HAM, kontekstualisasi, kemaslahatan, kesetaraan gender, kebebasan berekspresi, pembacaan baru atas teks, dll. mereka sering melakukan dekonstruksi terhadap agama. Padahal, di antara “mazhab Islam Indonesia” itu ada yang hidup dalam iklim keberagamaan yang super tradisionalis—taklid, kasta agamawan, rigid, fanatisme mazhab, takhayul, bidah, khurafat.

Selain mengurus hal-hal yang berkaitan dengan organisasi, liberalisme Islam harus menjadi salah satu tema krusial perjuangan PERSIS ke depan. Karena terbukti, NU dan Muhammadiyah pun mengalami tarik-ulur internal yang kuat untuk menghadapi hermeneutik sekular dan gerakan ini. Hal ini dilakukan tiada lain untuk membangunkan tidur pulas PERSIS. Karena, sesuai dengan perubahan konteks, ada banyak agenda jihad, ijtihad, dan mujahadah baru yang harus dilakukan oleh PERSIS di saat sekarang. Termasuk agenda radikalisme hermeneutik liberal-sekular Barat yang hendak diterapkan kepada agama Islam oleh cendekiawan-cendekiawan Muslim liberal.

Tidak adanya liberalisasi di PERSIS akan menuntut PERSIS—terutama generasi mudanya—untuk menghadirkan wacana Islam yang moderat (wasathiyyah). Jauh dari sikap liberal-sekular yang desktruktif dan manipulatif, serta jauh dari sikap jumud yang rigid dan tidak mengikuti perkembangan konteks yang terus berubah. Sikap moderat inilah yang akan menuntut PERSIS bersikap adil dan proporsional dalam menghadapi teks-konteks, teks-maslahat, inklusifisme-ekslusifisme, akal-naql, agama-negara, privat-publik, tradisi-kemodernan, turats-tajdid, jihad-toleransi, simbol-substansi, ats-tsawwabit-al-mutaghayyirat, hak-kewajiban, masyarakat mayoritas-masyarakat minoritas, universal-lokal, muhkamat-mutasyabihat, dll.

Dalam sikap moderat, selamanya dualisme kutub di atas tidak akan bertentangan satu dengan yang lain. Karena, Islam memandang bahwa dualisme tersebut adalah pasangan, bukan lawan (clash) dan hal yang perlu disamaratakan (syncretism). Dualisme tidak perlu dimusuhi, tetapi harus disinergikan. Karena, ia adalah dua hal sinergitas yang komplementer. Ini persis seperti sistem tata surya yang berjalan di atas porosnya masing-masing. Agar hidup ini berjalan di atas fitrah dan keseimbangan. Dengan kata lain, agar hidup ini berjalan di atas nilai-nilai Islam (QS 2: 143, 11: 112-113).

Penyinergian dualisme tersebut tiada lain adalah bias dari sifat moderat agama Islam. Ini berarti bahwa Islam adalah agama yang selalu berjalan di tengah. Memberikan kepada suatu hal dengan kadar yang adil dan jauh dari sikap berlebihan. Baik dalam bentuk terlalu membanyakan (ifrat) ataupun menyedikitkan (tafrith).

Di sinilah kita akan melihat relevansi ketika Islam tidak menerima sikap keberagamaan yang ekstrem (al-ghulluw). Karena, ekstremisme hanya memberikan kadar kepada suatu hal seraya menelantarkan hal lainnya. Bahkan, secara tegas, Nabi mewanti-wanti bahwa ekstremisme adalah salah satu faktor dari sekian faktor kebinasaan umat-umat terdahulu (QS 4: 171, 5: 77, HR An-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad). Pada zaman sekarang, ekstremisme tersebut hadir dalam wajah ektremisme liberal-sekular dan ekstremisme fundamentalisme. Ekstremisme yang terlalu kontekstualis (akal) dan tidak mau diikat oleh teks (naql), serta ekstremisme tekstualis dan tidak tahu dengan perkembangan konteks. Jauh-jauh sebelum itu, sarjana-sarjana Muslim seperti Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Rusyd telah menegaskan bahwa akal dan naql tidak akan paradoks satu dengan yang lain.

Moderat inilah yang menjadi imunisasi PERSIS sehingga anak-anak mudanya tidak terkena epidemi liberalisasi. Dalam berfiqih misalnya, PERSIS memiliki beberapa paradigma moderat antara lain: bebas dari mazhab (la madzhabiyyah), moderat (al-wasathiyyah), sinergitas tradisi dan kemodernan (al-ashalah wa al-mu’ashirah), mudah (taysir), dan realistis (al-waqi’i).

Islam Moderat: Kembali ke Asli

Islam moderat bukanlah “Islam baru” seperti Islam liberal yang ingin membuat syariat baru—bidah. Namun, Islam moderat adalah Islam asli. Ia adalah usaha untuk mengembalikan umat Islam kepada Islam original sesuai dengan tuntunan Nabi. Islam moderat sesuai dengan adigium “kembali kepada Quran-Sunnah” yang menjadi kredo perjuangan PERSIS dan ormas-ormas Islam modernis lainnya. Secara substansi, keduanya sama, yang membedakan hanya perubahan konteks saja.

Moderat berarti istiqamah. Panceg di tengah dengan tanpa berpihak kepada salah satu hal seraya mengorbankan hal yang lain. Moderat adalah pesan yang termaktub di dalam surat Al-Fatihah dan sering dibaca oleh umat Islam sebanyak tujuh belas kali dalam sehari. Atau, di dalam surat Hud ayat 112 dan 113, moderat adalah anitetesis bagi sikap melampaui batas (thaghau). Ia menjadi jalan istiqamah yang ditempuh oleh orang-orang yang bertobat. Jalan yang menjadi antitesis bagi jalan yang ditempuh oleh orang-orang zalim, yaitu, jalan yang tidak akan mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari Allah. Karena, zalim tiada lain adalah melampaui batas itu sendiri.

Moderat dalam Islam bisa dilihat dari sikap tengah Islam terhadap ajarannya yang berupa akidah, ibadah, akhlak, ruhani-materi, hukum, dan privat-publik. Moderat di dalam Islam sangat cocok untuk agama abadi seperti Islam. Moderat di dalam Islam berarti adil, istiqamah, bukti kebaikan, personifikasi keamanan, bukti kekuatan, dan pusat persatuan (Kairo: 2003). Dalam berbagai teks, Allah dan Nabi sering memuji orang-orang yang bersikap moderat. Pepatah Arab mengatakan “Aku tidak melihat hal yang melampaui batas, kecuali selalu ada hak yang hilang.”

Kehadiran nilai-nilai moderat Islam tiada lain untuk melakukan kontekstualisi nilai-nilai Islam terhadap sosio-kultural yang terus berubah. Ia sama dengan kaidah universal “fatwa bisa berubah seiring perubahan waktu, tempat, dan adat budaya” yang dibuat oleh sarjana-sarjana Muslim klasik. Serta, sesuai juga dengan paradigma fiqih PERSIS yang sarat dengan nilai-nilai moderat Islam.

Jika dulu PERSIS memusatkan perjuangannya untuk menyinergikan nilai-nilai modernisme yang dibawa oleh Belanda dengan agama Islam, saya rasa di paruh millenium ketiga ini perjuangan tersebut harus dipusatkan terhadap nilai-nilai moderat Islam. Ini dilakukan tiada lain untuk menghadapi perubahan kontekstualisasi. Terutama untuk menghadapi gerakan liberalisme dan fundamentalisme Islam yang semakin masif. Wallahu a`lam bish-shawab.

*Penulis adalah Mantan Direktur Lembaga Buhuts Islamiyyah Pwk. PERSIS

http://pwkpersis.wordpress.com/2008/05/24/dari-islam-modernis-menuju-islam-moderat/#more-211

I found this article on the website for the representative branch for Persatuan Islam (Persis) in Egypt. The organisation started out as an informal gathering of Persis community members studying in Egypt, particularly at Al-Azhar before officially becoming affiliated with Persis in 2001. There are actually a few interesting articles written by some of the alumni on there, some of which I might look to upload in the near future.

This article raised a few important points which I’ve highlighted above. In fact many of these points cut right to the heart of the reason why I would like to do research on Persis.

Read the rest of this entry »

Shiddiq Amin Kembali Pimpin Persis

Senin, 05 September 2005 | 19:11 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Shiddiq Amin kembali terpilih sebagai Ketua Umum Persatuan Islam (Persis) periode 2005-2009, dalam muktamar XIII di asrama haji Pondok Gede, Senin (5/9) malam. Ia meraih 392 suara, disusul Entang Mukhtar 152, Dr Abdurrahman 53, Atip Latipul Hayat 52, Aceng Zakaria 5, dan 23 suara tidak sah.

Pada putaran pertama, Shidiq meraih suara terbanyak 136, disusul Entang Muchtar (41), Abdurrahman (25), Aceng Zakaria (4) dan Atip Latifulhayat.

Shidiq Amien, 50 tahun, yang juga pimpinan pondok Pesantren Persis di Kecamatan Benda, Kabupaten Tasikmalaya memang dijagokan oleh sejumlah pengurus cabang Persis. Pendukungnya antara lain berasal dari Gorontalo, Bandung, Cianjur dan Tasikmalaya. “Ustad Shodiq masih layak memimpin Persis,” kata Elim Muslim dari pimpinan daerah Cianjur, Jawa Barat.

Persis adalah organisasi Islam ketiga tertua setelah Muhamadiyah dan Al Isryad. Organisasi yang didirikan di kota Bandung tersebut pernah diperhitungkan ketika dipimpin oleh A. Hasan. Persis juga pernah melahirkan tokoh Islam terkenal seperti Muhamamd Natsir dan Isa Ansyari. Namun dalam perjalanan sejarahnya, nama Persis kalah pamor oleh Nahdlatul Ulama dan Muhamadiyah.

Saat ini anggota Persis diperkiarakan sekitar 30 ribu orang tersebar di 9 provinsi dan 59 kabupaten. Anggota Persis terbanyak adalah di Jawa Barat. Dalam Kongres Persis ke-13, hadir 2000 peserta berikut perwakilan badan otonomnya (Persatuan Isteri Persis, Pemuda Persis dll).

Untuk Muktamar Persatuan Persis kali ini, hadir 850 utusan terdiri 250 pimpinan cabang, 9 pimpinan wilayah dan 59 pimpinan daerah. Jojo Raharjo dan Zed Abidien

Though the data is a bit old now, being from 2005, this is the closest I have come thus far to figures on Persis membership and numbers of branches. Obviously a further breakdown would be nicer, but that’s something to keep look for. Just to recap the important numbers:

Number of Members: Approximately 30,000

Branches in Attendance at National Conference:

  • Local Branches: 250
  • Sub-provincial Branches: 59
  • Provincial Branches: 9

The numbers for branches probably at the very least represent minimum numbers, as it is possible that some branch representatives might not have been able to make it. So for the time being still no firm figures, but approximate numbers are always nice.

Persis Chairman Shiddiq Amin

Persis Chairman Shiddiq Amin

Shiddiq Amin at Discussion with Hizbut Tahrir

Shiddiq Amin at Discussion with Hizbut Tahrir

KH. Drs. Shidiq Amien, MBA

Written by asepabdulhamid

Monday, 21 April 2008

Beliau adalah putra kandung dari pendiri Pesantren Persis 67 Benda, Ustadz Aminullah. Beliau mulai menggantikan ayahnya sebagai Pimpinan Pesantren sejak tahun 1977. Dalam usia yang masih muda, beliau berani menerima tugas sebagai Pimpinan Pesantren dengan berbekal fiti pengalaman belajarnya selama dua tahun di PPI 1 Pajagalan Bandung. Sebelum masuk mu’allimien beliau terlebih dahulu menamatkan pendidikannya di SMAN 1 Tasikmalaya pada tahun 1974.

Meskipun hanya mengecap pendidikan selama dua tahun di Pesantren, namun pengetahuan yang dimilikinya tentang agama Islam cukup luas dan mendalam.

Hal ini disebabkan beliau selalu rajin dan ulet dalam mempelajari agama Allah. Bukan hanya melalui pendidikan Mu’allimien, namun juga melalui pengajian-pengajian yang selalu dihadirinya, selain itu juga melalui buku-buku yang rajin dibaca.

Sejak Pesantren Persis 67 Benda mulai dipimpin oleh beliau, kemajuan yang dialami terasa meningkat begitu pesat, baik dari segi jumlah maupun kondisi fisik bangunan. Sebagai pemuda, beliau memiliki semangat yang tinggi dan keuletan dalam berusaha mengembangkan Pesantren, sehingga Pesantren Persis 67 Benda saat ini memiliki fasilitas yang cukup memadai.

Dalam usia beliau yang kini menginjak 53 tahun (lahir 13 Juni 1955), beliau sudah dikenal sebagai salah seorang mubaligh Persis yang handal. Beliaupun menempati posisi yang penting dalam Jam’iyyah Persis yaitu sebagai Ketua Umum. Beliau meraih gelar Drs-nya setelah menyelesaikan pendidikannya di STBA pada tahun 1979, sedangkan gelar MBA-nya diraih lewat KIMS. Sejak wafatnya KH. Lathief Muhtar, MA ia menggantikannya sebagai Ketua Umum PP. Persis hingga tahun 2010. Pada Periode 1999-2004 beliau terpilih sebagai utusan golongan di MPR.

http://www.persis67benda.com//index.php?option=com_content&task=view&id=4&Itemid=5

The current Chairman of Persatuan Islam is KH Shiddiq Amin (b. 13 June 1955), who is still listed as the head of the Persis 67 Benda school in Tasikmalaya, West Java. He is the son of the pesantren’s original founder, Utsman Aminullah. Despite his father being the head of a pesantren, Amin went to school at a public school, SMAN 1 Tasikmalaya, only spending the last two years of his basic schooling at Persis Pesantren No. 1 in Bandung. Read the rest of this entry »

Senin, 02/10/2006 17:07 WIB

Tebang Beringin, Persis Ingin Buktikan Isu Angker

Ari Saputra – detikNews

Jakarta – Desas-desus masyarakat bahwa beringin di sekitar Harmoni Central Busway (HCB) angker, mendorong santri Persatuan Islam (Persis) membuktikan kebenarannya. Penebangan beringin menjadi bagian dari dakwah Persis.

“Berdasar info di lapangan, di daerah Harmoni ada pohon yang luar biasa yang tidak boleh ditebang. Isunya, 4 orang yang mencoba menebangnya meninggal dunia. Saya ingin membuktikan isu itu,” kata Ketua DPW Pemuda Persatuan Islam DKI Jakarta Zainal Arifin.

Hal ini disampaikan Zainal kepada detikcom di Pondok Pesantren Persatuan Islam, Jalan Kramat Asem Raya, Matraman, Jakarta Timur, Senin (2/10/2006). Sebelum melakukan penebangan, Zainal mengaku melakukan survei.

“Memang pohon itu telah diberi sesajen untuk pemujaan,” ujarnya. Selain ingin membuktikan, lanjut Zainal, letak beringin yang dekat Masjid Istiqal dan Istana sungguh memalukan.

“Masa pohon saja mengalahkan kekuatan manusia. Semua pohon ditebang, kenapa hanya ini tidak. Kalau menurut keyakinan kami, ini bagian dari dakwah,” cetusnya.

Seperti diketahui, proyek busway membuat 600 pohon ditebang. Tapi beringin di HCB tetap dipertahankan dengan alasan usianya sudah tua, bernilai historis dan agar tidak terjadi polusi. Beredar sas-sus bahwa beringin itu terpaksa dipertahankan karena tidak ada yang mampu menebangnya. Setiap yang berusaha menebang jatuh sakit, bahkan meninggal. Namun isu ini dibantah aparat Pemprov Jakarta. (aan/nrl)

This is perhaps the most prominent, as well as the most humourous, example in recent times of Persis members acting out on their puritanism. The tree in question was out in the middle of a road and considered to have mystical or spiritual properties, such that anyone who tried to chop it down would fall ill. Read the rest of this entry »

Kutuk Serangan Israel

500 Anggota Persis Geruduk Dubes AS

Andi Saputra – detikNews

Jakarta – Aksi penolakan agresi Israel ke Palestina masih terus didengungkan. Sekitar 500 orang dari Persatuan Islam (Persis) melakukan aksi jalan kaki dari Gedung PBB, Jl MH Thamrin menuju gedung Kedubes Amerika Serikat (AS), Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Mereka melewati rute jalur cepat Jl MH Thamrin, Bundaran Indosat, Jl Medan Merdeka Selatan, Sabtu (3/1/2009).

Rencananya di depan Kedubes AS mereka akan berorasi untuk mengutuk serangan Israel dan meminta PBB untuk menengahi peristiwa tersebut. Mereka juga meminta AS selaku negara adidaya untuk ikut membangun perdamaian di Palestina.

Aksi pria dan wanita berpakaian serba putih dan membawa puluhan bendera Persis ini juga membentangkan spanduk besar putih bertuliskan “PBB Buka Matamu, Kami Tunggu Aksimu!”.

Selain itu mereka juga membawa pamflet bertuliskan “Go to Hell Israel from Paletine” dan “Israel Laknatullah”. Mereka juga menggunakan TOA dengan meneriakkan ‘Allahu Akbar!’, ‘Allahu Akbar!’.

Aksi Persis ini dikawal 30 polisi bermotor. Kemacetan tidak terjadi karena jalanan masih sepi mengingat musim liburan masih berlangsung.
(nik/mad)

Here are some photos of the demonstration. At one stage some of the demonstrators put on a martial arts display, a display of readiness to fight if they were sent to Palestine at the time. Read the rest of this entry »